×
20180323102709-tips-kami.jpg
Beranda / Cara Sehat Menghangatkan Nasi dengan Smart Cooker Vienta
12 December 2014
Cara Sehat Menghangatkan Nasi dengan Smart Cooker Vienta

Smart Cooker Vienta adalah produk multifungsi digital, di mana salah satu fungsinya yaitu menghangatkan nasi (keep warm). Sebagai salah satu fungsi yang cukup penting, Anda sebaiknya mengetahui cara terbaik penggunaan fungsi keep warm ini agar nasi yang Anda hangatkan tetap sehat ketika dikonsumsi.

Secara umum dapat dikatakan bahwa kualitas nasi yang sedang dihangatkan di dalam Smart Cooker Vienta dipengaruhi oleh tiga faktor : produk, suplai listrik, serta jenis beras.
Faktor desain produk yang mempengaruhi kualitas nasi meliputi elemen pemanas (heater), pengendali temperatur (thermostat), inner pot, serta bagian pengeluaran uap (steam outlet). Heater hanya dapat bekerja menghasilkan panas selama ada arus listrik yang mengalirinya (kondisi ON). Namun heater ternyata tidak bekerja sendiri. Ia mutlak didampingi oleh thermostat.

Thermostat bertugas untuk memutus aliran listrik ke heater (OFF) apabila temperatur nasi telah mencapai maksimum, serta mengalirkan kembali aliran listrik ke heater jika temperatur nasi turun hingga minimum (ON). Thermostat memastikan temperatur nasi tidak terlalu panas dan juga tidak terlalu dingin, persis seperti AC yang secara berkala ON-OFF untuk menjaga temperatur ruangan tepat seperti yang diinginkan. Kemampuan thermostat untuk menjaga temperatur nasi selalu dalam rentang yang didesain mempengaruhi basi-tidaknya nasi.

Biasanya, jika ada masalah pada respon thermostat sehingga temperatur nasi drop di bawah temperatur minimum desain, nasi cenderung berair/benyek dan lebih cepat basi. Sebaliknya bila temperatur nasi cenderung selalu lebih panas daripada temperatur desain, nasi akan mengering dan warnanya menguning. Selain karena aspek kerusakan heater atau thermostat, kinerja kedua alat ini juga dipengaruhi oleh faktor kedua : suplai listrik.

Tegangan nominal yang seharusnya tersedia pada stop kontak adalah 220 V. Namun pada kondisi beban puncak listrik (biasanya terjadi malam hari saat banyak peralatan elektronik dihidupkan oleh jutaan keluarga di Indonesia) atau saat memang terjadi gangguan suplai listrik, tegangan bisa turun hingga 180 V atau bahkan lebih rendah. Nah, karena heater didesain untuk bekerja optimum pada 220 V, heater tak mampu menghasilkan cukup panas jika hanya diberi asupan 180 V atau kurang. Akibatnya, temperatur nasi yang sedang dihangatkan pun menurun hingga nasi cenderung lekas benyek bahkan basi.

Sebaliknya apabila tegangan hanya berkurang sedikit dari 220 V (katakanlah 200 V), heater mampu mencapai rentang optimum temperatur keep warm, namun dalam waktu yang lebih lama karena memang panasnya kurang dari yang semestinya. Jadi jika biasanya pada tegangan 220 V heater Smart Cooker Vienta hanya sebentar dalam posisi ON (menyala untuk memanaskan nasi dari temperatur minimum ke maksimum), pada tegangan 200 V heater harus menyala lebih lama untuk mencapai temperatur maksimum. Gara-gara menyala lebih lama, nasi – terutama di bagian pinggir yang bersentuhan langsung dengan inner pot – akan cenderung lebih kering dan menguning.

Sayangnya, kondisi tegangan listrik di bawah 220 V ini belakangan sering terjadi. Dari pengukuran sederhana dengan AVOmeter di kota-kota besar Pulau Jawa pada sekitar pukul 8 malam, tegangan suplai pada stop kontak selalu hanya berkisar antara 190 hingga 210 V. Hal yang amat mengganggu kinerja heater dan thermostat ini sangat berdampak buruk terhadap kualitas nasi, kecuali jika Anda menggunakan stabilizer listrik aktif (berapapun tegangan inputnya, keluaran stabilizer aktif selalu 220 V).

Solusi terbaik saat ini adalah sebisa mungkin jangan menghangatkan nasi di waktu malam (saat beban puncak listrik). Artinya, sedapat mungkin nasi selalu hanya dimasak secukupnya pada pagi hari agar habis saat makan malam. Dengan cara ini, selain menghindari kasus penurunan kualitas nasi akibat tegangan listrik turun, kita selalu mengkonsumsi nasi yang relatif baru (kandungan gizinya masih memenuhi standar kesehatan) serta tentunya menghemat pengeluaran listrik bulanan.

Penelitian kandungan gizi nasi tercantum dalam tabel di bawah. Tampak bahwa nilai gizi terus menurun jika nasi semakin lama dihangatkan karena kandungan gizi menguap bersama uap air. Tentunya Anda ingin selalu mengkonsumsi nasi ketika dalam kondisi nilai gizi memenuhi batas kebutuhan tubuh, bukan? Syarat ini tercapai jika nasi yang dikonsumsi hanya dihangatkan paling lama 24 jam. Namun kandungan gizi nasi terbaik sebenarnya hanya bertahan selama 12 jam.

Inner pot pun sangat mempengaruhi kualitas nasi. Inner pot yang pernah digunakan untuk menghangatkan nasi terlalu lama hingga nasinya berbau akan cenderung lekas menyebabkan nasi berbau pula. Penyebabnya adalah bau yang masih menempel di inner pot karena lapisan anti lengketnya (sering disebut teflon) memiliki pori relatif besar. Jadi, meski nasi sebenarnya masih baik, baunya sudah kurang sedap akibat tercemar bau yang menempel pada inner pot tersebut.

Sulitnya, kita sering kali tidak memperhatikan hal ini karena awalnya (saat masih dingin) inner pot tidak mengeluarkan bau. Namun saat sudah digunakan untuk menghangatkan nasi (inner pot sudah panas), bau kurang sedap baru muncul. Panas memang menguapkan bau yang menempel di pori-pori lapisan anti lengket sehingga tercium. Dan ini berlaku untuk segala jenis bau. Contohnya jika kita sebelum memasak nasi menggunakan jar untuk membuat kue, nasi akan cenderung berbau kue. Bisa juga nasi akan berbau sup atau makanan lainnya yang sebelumnya disimpan di dalamnya. Namun yang paling tidak enak memang bau basi akibat sebelumnya inner pot pernah memuat nasi hingga berbau.

Menghilangkan bau yang terlanjur menempel relatif tidak mudah (Anda dapat mengikuti cara yang dijelaskan dalam ’Tips Perawatan Inner Pot Smart Cooker Vienta’). Cara yang paling efektif tentu saja dengan selalu menjamin agar tidak ada bau yang menempel pada inner pot. Caranya : jangan sampai membiarkan nasi terlalu lama dihangatkan (lebih dari 24 jam) karena akan menyulitkan untuk menghilangkan bau kurang sedap yang terlanjur menempel.

Selain di inner pot, bau tak sedap juga dapat menempel pada seal-seal karet dan tutup atas bagian dalam. Menghilangkan bau tak sedap di sini pun tidak mudah. Harus dicuci berkali-kali agar hilang. Sekali lagi, satu-satunya cara untuk meniadakan kerepotan menghilangkan bau tak sedap adalah dengan cara tidak membiarkan nasi dihangatkan lebih dari 24 jam. 24 jam adalah batas maksimum lama penghangatan nasi dengan Smart Cooker Vienta untuk menjamin nasi yang dikonsumsi selalu masih memiliki kandungan gizi yang memadai, relatif segar, tidak menyebabkan bau tak sedap, serta tentunya hemat energi listrik.

Terakhir, bagian pengeluaran uap (steam outlet) juga merupakan salah satu penentu utama kualitas nasi. Steam outlet seringkali menjadi sangat lembab, atau tersumbat oleh nasi yang tanpa disadari masuk ke dalamnya.

Jika menjadi sangat lembab, bakteri pembusuk dijamin bakal betah bersarang di sini karena uap air yang melewati steam outlet sebenarnya mengandung zat-zat gizi dari dalam nasi yang menguap karena panas. Uap air kaya nutrisi seperti ini amat disukai bakteri serta mikroba lain yang ada di udara. Akibatnya, nasi cenderung lekas basi karena terkontaminasi bakteri dari bagian ini. Nasi yang tak disengaja masuk ke sini juga menjadi media berkembang biak bakteri tersebut.

Sebaliknya apabila potongan nasi menyumbat lubang pengeluaran uap, sirkulasi udara dari dalam ke luar Smart Cooker akan terganggu. Ujungnya, sebagian uap air yang seharusnya keluar malah tertahan dan mengembun di bagian dalam tutup atas Smart Cooker. Titik-titik air ini kemudian menetes kembali ke nasi yang sedang dihangatkan sehingga menjadi berair dan lekas basi.
Solusinya, secara berkala (minimum sebulan sekali) steam outlet harus dicuci bersih. Steam outlet yang selalu bersih tentu akan mampu berfungsi optimum serta tidak lantas menjadi tempat bersarang bakteri pembusuk yang sangat menurunkan kualitas nasi.

Faktor ketiga, jenis beras, pun amat mempengaruhi kualitas nasi. Secara umum, tiap jenis beras membutuhkan perbandingan campuran air tersendiri yang tidak bisa disamakan dengan jenis beras lain untuk menghasilkan nasi yang enak. Ada istilah beras ‘berani air’ bagi jenis beras yang memang membutuhkan lebih banyak air, sebaliknya ada pula beras yang ‘takut air’. Jika beras ‘takut air’ yang memang hanya butuh sedikit campuran air diberi air berlebihan, tentu nasi yang dihasilkan cenderung akan lebih lembek sehingga berpotensicepat basi. Demikian pula bila beras ‘berani air’ hanya diberi sedikit air, nasinya cenderung kering dan lekas menguning. Jadi, campuran air memang mesti tepat agar kualitas nasi di dalam Smart Cooker Vienta tetap baik selama disimpan.

Ada pula sebutan nasi pera dan pulen. Nasi pera merupakan nasi yang butirannya cenderung terpisah satu sama lain, sedangkan butiran nasi pulen cenderung saling melengket. Nasi pera dan pulen mutlak ditentukan oleh jenis berasnya. Jadi kita mustahil memperoleh nasi pera dari beras pulen, atau sebaliknya. Artinya, meski kita mengurangi campuran air pada beras pulen, nasi yang diperoleh akan tetap pulen, bukan pera. Atau malah masih mentah (masih berupa beras) karena Smart Cooker Vienta sudah otomatis berpindah fungsi ke keep warm saat beras belum sepenuhnya menjadi nasi karena airnya terlalu sedikit.

Perbandingan jenis pati dalam beras (amilosa dan amilopektin) merupakan penentu jenis beras pera atau pulen. Beras pera memiliki kandungan amilosa tinggi (lebih dari 26%) dan amilopektin rendah seperti pada beras long grain. Sebaliknya beras short dan medium grain yang amilosanya hanya 15 ~ 26% akan menghasilkan nasi pulen.

Kategori short grain sendiri diberikan pada beras yang berbentuk hampir bulat. Beras medium grain memiliki panjang bulir 2~3 kali lipat lebarnya. Sedangkan panjang bulir beras long grain mencapai 4~5 kali lipat lebarnya. Biasanya, makin jauh tanaman padi ditanam dari garis khatulistiwa, makin pendeklah bulir berasnya. Dan makin pendek ukuran bulirnya, makin lunak dan lengket pula nasi yang dihasilkan. Nasi Jepang yang terkenal pulen dan lengket hingga mudah disumpit misalnya. Dan karena Indonesia ada dekat khatulistiwa, otomatis padi yang ditanam di sini sebenarnya cenderung menghasilkan beras long grain yang pera. Tidak banyak varietas padi Indonesia yang menghasilkan beras pulen.

Beras pera di Indonesia dipakai untuk membuat nasi goreng atau nasi kuning, jadi bukan untuk makanan sehari-hari yang disimpan di dalam Smart Cooker. Biasanya, nasi yang dimasak dengan Smart Cooker adalah nasi pulen yang memang lebih disukai masyarakat Indonesia karena lembut dan enak dimakan. Secara umum, nasi pera cenderung cepat kering jika disimpan teralu lama. Sebaliknya nasi pulen yang memang lebih berair dibanding nasi pera akan lebih lekas basi dan berbau tak sedap. Jadi memang penanganan nasi pera dan pulen dengan Smart Cooker pun berbeda.

Di luar segala kemungkinan penyebab turunnya kualitas nasi, selalu membatasi waktu keep warm maksimum 24 jam (lebih baik lagi di bawah 12 jam) adalah cara paling mudah yang sangat jitu. Dengan cara ini, kita selalu mengkonsumsi nasi relatif segar yang kandungan gizinya memenuhi standar, serta menghindari kemungkinan bau tak sedap menempel di dalamnya. Dan walaupun listrik naik-turun, nasi tak akan basi atau kering karena sudah habis lebih dulu, dan berganti nasi baru yang masih segar.

Anggapan ’kemarin juga nasi disimpan 2 hari tidak basi’ sama sekali keliru. Jika Smart Cooker kebetulan dapat menyimpan nasi tanpa bermasalah hingga 2 hari, itu mungkin hanya karena sedang beruntung bahwa berasnya memang baik, atau tegangan listrik sedang bagus. Tapi begitu timbul masalah pada salah satu dari 3 faktor di atas, bau akan menempel di dalamnya dan sangat sulit hilang. Upaya yang harus dilakukan untuk mengembalikan kondisi Smart Cooker seperti sedia kala – apalagi dengan fakta penurunan nilai gizi nasi serta pemborosan listrik – sungguh tidak sepadan dengan kepraktisan semu berlama-lama menghangatkan nasi.

Poin penting yang semestinya diperhatikan saat menanak dan menghangatkan nasi dengan Smart Cooker :

Tidak mencabang-cabang stop kontak keluaran arus listrik rumah agar tegangan yang masuk ke Smart Cooker relatif tetap stabil pada nominal 220 V. Jika tegangan listrik rumah Anda kerap turun, penggunaan stabilizer tipe aktif amat disarankan untuk penanak nasi digital seperti Smart Cooker Vienta.

Lakukan pola menanak nasi yang sehat yaitu mulai menanak saat pagi hari (sebelum sarapan) dan habis saat malam hari (setelah makan malam). Pastikan porsi nasi habis untuk konsumsi satu hari keluarga Anda. Waktu keep warm sekitar 12 jam ini menjamin nilai gizi nasi masih memenuhi standar kebutuhan tubuh, serta tentunya hemat listrik dan membuat Smart Cooker lebih awet.
Bersihkan inner pot dan bagian dalam Smart Cooker secara berkala (setidaknya sebulan sekali).

Biasakan untuk menggunakan fungsi ’Cook’ saat menanak nasi untuk mendapatkan hasil nasi yang lebih pulen, lembut, dan lezat. Fungsi ’Fast Cook’ pada dasarnya hanya digunakan saat Anda terburu-buru menanak nasi, karena nasi yang dihasilkannya relatif tidak sebaik hasil fungsi ’Cook’.
Pastikan campuran air tepat seperti kebutuhan beras yang Anda gunakan, tidak terlalu banyak atau kurang.